ABFI Banking Award 2009

1 July 2009

Disadari bahwa tahun 2008 merupakan tahun yang sulit bagi industri perbankan, termasuk di Indonesia terkait adanya krisis global.  Namun demikian, meskipun terdapat penurunan kinerja secara umum dibandingkan dengan tahun lalu, namun penurunan tersebut tdapat dikatakan tidak signifikan. Dengan membandingakan data akhir 2007, akhir 2008 dan Maret 2009, maka kita dapat melihat bahwa beberapa indikator kinerja justru membaik meskipun diakui bahwa beberapa indikator memburuk.

Indikator kinerja yang membaik pada akhir 2008 ditunjukkan dengan LDR yang semakin besar dan dan NPL yang menurun.  Sedangkan indikator yang lain menunjukkan kondisi yang tidak lebih baik, seperti peningkatan BOPO yang mengakibatkan menurunnya ROA dan NIM.  Hal ini berdampak juga pada penurunan CAR.

Kinerja Industri Perbankan Secara Umum
2007 – Maret 2009

2007 2008 Mar 2009
Jumlah bank 130 124 123
Total asset (miliar Rp) 1.986.501 2.310.557 2.352.110
Dana ketiga (DPK) (miliar Rp) 1.510.834 1.753.292 1.786.157
Kredit (miliar Rp) 1.002.012 1.307.668 1.305.389
Laba setelah pajak (miliar Rp) 35.015 30.606
CAR (%) 19.3 16.76 18.03
ROA (%) 2.78 2.33 2.76
BOPO (%) 84 88.59 90.68
LDR (%) 66.32 74.58 73.08
NIM (%) 5.70 5.66 5.50
NPL (%) 4.07 3.20 3.93
Sumber: Bank Indonesia

Jika dilihat lebih lanjut, penurunan CAR ini tidak terjadi pada semua bank.  Pada bank asing dan swasta non devisa justru terjadi kenaikan CAR pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2007.  Penurunan Car terbesar terjadi pada bank persero, yaitu dari 17.85 persen menjadi 14.31 persen.

Tabel 1. Rata-rata Rasio CAR Bank Umum

Periode Tahun 2003-2008 (dalam%)

Kelompok Bank

2003

2004

2005

2006

2007

2008

Persero

18,21

20,71

19,43

21,20

17,85

14,31

BPD

19,10

19,14

19,24

19,12

18,35

16,82

Swasta devisa

20,26

18,08

16,92

19,84

18,21

14,82

Swasta non devisa

14,99

16,30

15,32

19,27

23,14

24,44

Campuran

32,65

28,35

28,78

30,78

28,22

24,95

Asing

17,58

16,51

21,94

24,48

24,01

29,06

Bank Umum

19,43

19,42

19,30

21,27

19,30

16,76

Kinerja industri perbankan, pada dasarnya merupakan hasil kerja bersama antara industri perbankan itu sendiri sebagai pengelola, pemerintah sebagai regulator, serta masyarakat umum termasuk di dalamnya kaum akademisi.  Peran kaum akademisi di sini selain sebagai penyedia sumber daya manusia, juga sebagai penyedia informasi melalui karya penelitian yang dihasilkannya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) ABFI Institute Perbanas mengenai “Kinerja Keuangan dan Kinerja Efisiensi Industri Perbankan di Indonesia” diharapkan memberikan kontribusi positif kepada industri perbankan di Indonesia.  Diharapkan melalui penelitian ini, semakin memacu persaingan yang sehat antar bank di Indonesia.  Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan informasi obyektif bagi masyarakat sebagai pengguna jasa perbankan.

Seperti tahun 2008 lalu, penentuan bank berkinerja terbaik pada ABFI Banking Award didasarkan pada 2 (dua) indikator, yaitu kinerja keuangan dan kinerja efisiensi yang masing-masing kinerja diberi bobot 50 persen.  Penggabungan keduanya menghasilkan nama ABFI – CAMEL.  ABFI merupakan singkatan dari Asian Banking Finance and Informatics Institute yang merupakan lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah yayasan Perbanas.  Sementara CAMEL di sini merupakan perpaduan antara kinerja keuangan yaitu CAEL dengan kinerja efisiensi yang diukur dengan metode DEA sebagai proksi terhadap unsur manajemen (M).

Sebagai informasi, CAEL yang merupakan singkatan dari Capital (C), Asset Quality (A), Earning (E), dan Liquidity (L) adalah bagian dari CAMELS yang merupakan indikator yang pernah digunakan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) USA untuk mengevaluasi kinerja bank.  Dalam penelitian ini, aspek Sensitivity market to Risk (S) tidak dimasukkan dalam kajian ini, sedangkab aspek manajemen (M) diproxi dengan hasil kinerja efisiensi.  Hal ini dikarenakan ketidaktersediaan data disamping bahwa unsur manajemen idealnya dievaluasi menggunakan pendekatan kualitatif.

Data Envelopement Analysis (DEA) merupakan sebuah pendekatan non parametrik yang pada dasarnya merupakan teknik berbasis linier programming untuk menghitung perbandingan rasio output dan input untuk semua unit yang dibandingkan dalam sebuah populasi.  Tujuan dari metode DEA adalah untuk mengukur tingkat efisiensi dari decision making unit (DMU ie. Bank) relatif terhadap bank yang sejenis ketika semua unit-unit ini berada pada atau di bawah kurva efisien frontiernya.

Metode DEA menghitung efisiensi teknis untuk seluruh unit.  Skor efisiensi untuk setiap unit adalah relatif, tergantung pada tingkat efisiensi dari unit-unit lainnya di dalam sampel.  Setiap unit dalam sampel dianggap memiliki tingkat efisiensi yang tidak negatif, dan nilainya antara 0 dan 1 dengan ketentuan satu menunjukkan efisiensi yang sempurna.

Dengan menggunakan data laporan keuangan bank per Desember 2008, masing-masing rasio diberi bobot seperti tabel di bawah ini:

No

Kinerja

Bobot

1.

Capital (CAR)

10 %

2.

Asset Quality (NPL)

10 %

3.

Management (DEA)

50 %

4. Earning :

–  NIM

5 %

–  ROA

5 %

–  BOPO

10 %

5.

Liquidity (LDR)

10 %

Pada ABFI Banking Award 2009 ini, terdapat beberapa improvement dibandingkan tahunsebelumnya, yaitu:

  1. Jumlah bank yang menjadi obyek penelitian meningkat, yaitu dari 111 bank menjadi 127 bank, yang terdiri dari 98 bank konvensional, 3 Bank Umum Syariah, dan 26 Unit Usaha Syariah.
  2. Pada tahun 2009 ini, bank syariah turut menjadi obyek penelitian.  Dengan melibatkan 29 bank syariah (BUS dan UUS)
  3. Jika pada tahun lalu kategori bank campuran dan bank asing terpisah, pada tahun ini keduanya digabung menjadi satu kategori, yaitu bank campuran dan bank asing
  4. Jumlah bank yang mendapatkan award justru berkurang, bukan karena kinerja yang menurun, melainkan pada tahun ini penghargaan diberikan kepada 3 (tiga) bank terbaik pada masing-masing kategori (kecuali BPD yang 5 bank terbaik), sementara pada tahun 2008 lalu, penghargaan diberikan kepada bank yang  memperoleh predikat sangat baik, dengan skor total adalah 43.
  5. Khusus untuk BPD, penghargaan diberikan kepada 5 bank terbaik.  Hal ini dimaksudkan untuk mendorong peran bank daerah sebagai agent of development di daerah.  Di samping itu, secara umum BPD mempunyai nilai yang relatif baik.

Adapun hasil penelitian tersebut menunjukkan bank-bank yang terbaik adalah:

Kategori Bank Persero:
PT. BANK RAKYAT INDONESIA, Tbk
PT. BANK TABUNGAN NEGARA
PT. BANK MANDIRI, Tbk

Kategori Bank Umum Swasta Besar
PT. BANK CENTRAL ASIA, Tbk
PT. BANK DANAMON INDONESIA, Tbk
PT. BANK NIAGA, Tbk

Kategori Bank Umum Swasta Menengah
PT. BANK MESTIKA DHARMA
PT. BANK BUANA INDONESIA, Tbk ( UOB )
PT. BANK MAYAPADA INTERNATIONAL

Kategori Bank Umum Swasta Kecil
PT. BANK SINAR HARAPAN BALI
PT. BANK METRO EKSPRESS
PT. BANK FAMA INTERNASIONAL

Kategori Bank Pembangunan Daerah
PT. BPD JAWA TENGAH
B P D JAMBI
PT. BANK BPD BALI
PT. BPD SUMATERA UTARA
PT. BPD JAWA BARAT

Kategori Bank Campuran & Bank Asing
PT. BANK UOB INDONESIA
THE BANK OF TOKYO-MITSUBISHI UFJ LTD.
BANK KEB INDONESIA

Kategori Bank Umum Syariah & UUS
BANK MUAMALAT
BANK SYARIAH MANDIRI
UUS BANK BPD DIY

Tim peneliti yang menghasilkan karya in adalah tim yang sama pada tahun 2008.  Adalah Tim dari Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) ABFI Institute Perbanas yang dipimpin oleh Zaenal Abidin, Ph.D, dengan anggota Endri, MA dan Dyah Nirmalawati, M.Si.  Sedangkan sebagai narasumber adalah Dr. Ir. Fatchudin, MM dan Prof. Dr. Sudarsono, M.Sc.

Perbanas Institute Logo